Baik novel maupun yang sudah dalam bentuk film, Dilan 1990 menyedot perhatian banyak kalangan. Tidak terkecuali juga gubernur Jawa Tengah saat ini, Ganjar Pranowo. Dalam berita nasional, beliau cukup terkesan dengan film karya Pidi Baiq yang diputar di XXI Paragon Mall Semarang. Apa saja yang membuat beliau tertarik menonton sampai habis?

  1. Film Dilan Membuat Ganjar Merasa Jauh Lebih Muda

Film yang berkualitas memang selalu menyisakan hal-hal yang menarik untuk para penontonnya. Sedangkan film Dilan 1990 ini merupakan bentuk konkret dari pembaruan film romantis yang ada pada era 1900 maupun sekarang. Kisah romantisme tidak hanya berbumbu ciuman, pelukan, dan sebagainya, tetapi juga hal-hal konyol yang segar.

Tak ayal, film Dilan 1990 yang diputar di XXI Paragon Mall ini pun kebanjiran pengunjung. Rata-rata masih berusia 17-an tahun. Dengan nada kelakar, Ganjar berkata, “Di bioskop ini penonton Dilan kebanyakan berusia 17-an tahun, termasuk saya.” Ungkapan tersebut pun lantas mengundang tawa orang-orang yang berada di sana.

  1. Film Dilan Lebih Menghibur dari Film Genre Horor

Kebanyakan film yang tengah marak beberapa dekade yang lalu adalah yang bergenre horor. Kalau toh tidak horor, minimal berbau-bau thriller. Bahkan dominasinya begitu terasa soalnya terpengaruh adanya budaya asing dalam setiap penggarapan film tersebut. Efek darah, bacokan, dan ketegangan lain menjadi elemen penarik minat penonton.

Alhasil, banyak film yang mengimplementasikan konsep bercerita itu sukses di pasaran. Sedangkan konsep romantis yang selama ini dibangun jadi kurang menggairahkan. Dalam berita nasional, Dilan cukup sukses memperbarui konsep film romantis dalam negeri. Elemen humornya juga terasa segar dan bernas, kendatipun ditulis pada tahun 90-an.

  1. Ada Tata Krama dalam Setiap Dialognya

Film khas anak muda tidak melulu bergaya agresif dan semaunya. Dalam penggarapan film maupun novel Dilan, tiap dialognya juga tidak ada yang menyimpang dari tata krama. Dalam adat Jawa, ada 3 tingkatan bahasa yang menunjukkan tingkatan kesopanan, mulai dari ngoko, krama, dan krama inggil.

Dengan adanya tata krama dalam dialog film, secara tidak langsung membuka kesadaran kalau yang muda harus tetap sopan. Lebih baik tepikan dulu sisi agresif yang seringkali diperagakan dalam film remaja masa kini. Omongan kasar dalam film remaja tidak sepatutnya diekspos terus menerus. Soalnya jiwa anak muda masih sering labil.

  1. Ditonton Oleh Banyak Sekali Dilanisme Semarang

Jauh-jauh hari Ganjar memang sudah tahu kalau pemutaran film Dilan 1990 di XXI Paragon Mall Semarang akan berlangsung meriah. Beliau menganggap penjualan novel Dilan sebagai buku remaja dengan penjualan yang fenomenal. Itulah yang menjadi salah satu referensinya kenapa dia mau menyambangi XXI Paragon Mall Semarang.

Selain itu, dengan banyaknya Dilanisme Semarang yang ikut menonton, beliau jadi punya kesempatan untuk foto bersama mereka. Ketika Ganjar masuk gedung, para Dilanisme langsung heboh ber-selfie ria. Tanpa Dilanisme Semarang, tentu gedung bioskop tersebut kurang hangat. Ganjar pun memberi apresiasi sekenanya begitu bertemu dengan mereka.

  1. Sosok Dilan Mengingatkannya saat Masih SMA

Siapa yang tahu masa lalu Ganjar saat SMA? Tentu tidak ada. Beliau memang sejak dari dulu suka berkelakar pada siapa saja. Dalam beberapa update berita nasional, Ganjar lebih menyerupai Jokowi, tapi dalam versi yang lebih muda. Kiranya itulah yang membuat wajahnya tetap terlihat muda.

Sosok Dilan, baik dalam novel maupun yang sudah diperankan dalam film selalu jadi sosok yang fenomenal. Khususnya untuk para remaja Tanah Air. Sebuah karya yang dalam berita nasional seiring waktu jadi representasi dari karya-karya romantis penulis berikutnya. Apa yang dicapai oleh novel dan film Dilan patut dimasukkan dalam buku rekor Indonesia.

shares