Pemilihan umum presiden dan wakil presiden sudah dilakukan tanggal 17 April lalu. Perhitungan suara baik dari quick maupun real count terus bertambah dan menumpuk. Sejauh ini, dari beberapa lembaga survei yang mengadakan quick count, hasil sementara adalah pasangan nomor 01, Jokowi Menang di Boyolali dan memperoleh suara yang lebih banyak.

Apalagi di daerah Jawa Tengah yang diklaim sebagai kandang banteng. Di daerah Boyolali misalnya, Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf menyebutkan bahwa di Boyolali kemenangan sudah dipegang oleh paslon nomor urut 01 ini.

TKN menyebutkan bahwa pasangan Jokowi-Ma’ruf memperoleh suara 100% dari 61 TPS (Tempat Pemungutan Suara) yang tersebar di seluruh Kabupaten Boyolali.

Ke 61 TPS tersebut tersebar di berbagai kecamatan, yaitu 5 TPS di Kecamatan Selo, 8 TPS di Ampel, 11 TPS di Cepogo, Musuk 16 TPS, Mojosongo 2 TPS, Andong 2 TPS, Kemusu 3 TPS, dan Wonosegoro sebanyak 14 TPS.

Dengan perolehan suara 100% artinya tidak ada yang memilih pasangan calon nomor urut 02. Padahal di setiap daerah tentu ada saksi parpol pendukung untuk masing-masing pasangan. Laku kemanakah suara dari saksi-saksi dari parpol pendukung paslon nomor 02?

Menurut Ketua KPPS TPS 02 Dukuh Pongangan, Desa Jeruk, seperti yang dilansir dari detik.com, mengatakan bahwa saksi-saksi pasangan calon nomor 02 tidak kelihatan atau tidak ada. Memang ada beberapa saksi, tetapi saksi tersebut adalah saksi dari sejumlah parpol dan juga saksi paslon nomor 01.

Sekretaris Desa Jeruk pun juga mengatakan hal yang sama. Di TPS 02 tidak ada saksi dari pasangan capres nomor 02 maupun saksi dari parpol pengusungnya. Menurutnya, saksi biasa mencoblos di tempat asalnya.

Kemenangan 100% Jokowi ini tidak lepas dari semangat masyarakat Boyolali untuk mendukung pasangan calon nomor 01 dan memberikan suaranya. Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma’ruf juga mengatakan bahwa TPS yang mendapat suara 100% ini memang sudah langganan 100%.

Selain itu, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menilai bahwa kemenangan ini bukanlah bentuk dari people power, tetapi karena Boyolali memang sudah menjadi kawasan basis PDI Perjuangan.

Selain itu, terkait pasangan nomor 02, Prabowo-Sandi, Hasto menyebutkan bahwa sikap yang dilakukan Prabowo beserta tim suksesnya tidak sesuai dengan kultur Jawa. Sehingga, masyarakat kurang baik dalam merespon, sehingga hasil perolehan suara pun dimenangkan oleh Jokowi-Ma’ruf.

Belum lagi dengan kejadian Tampang Boyolali oleh Prabowo yang viral beberapa bulan lalu. Kejadian itu sempat menyinggung beberapa orang khususnya masyarakat Boyolali sehingga wajar-wajar saja jika masyarakat tidak memilih pasangan calon nomor 02 ini.

Hasto juga mengatakan bahwa meskipun ada unsur-unsur provokasi seperti membangun pis-pos pemenangan yang ditaruh di pos pemenangan Jokowi-Ma’ruf, pada akhirnya Jokowi-Ma’ruf menang telak.

Tidak hanya di Boyolali, tetapi pasangan Jokowi-Ma’ruf menang di seluruh 35 kabupaten di Jawa Tengah. Hasil quick count yang dilakukan TKN menunjukkan bahwa Jokowi-Ma’ruf memperoleh suara sebanyak 75,88%.

Bahkan, angka ini juga cukup mendekati real count dari KPU. Dari 7.879.000 suara yang masuk KPU hingga 25 April, 77,02% adalah suara milik Jokowi-Ma’ruf sedangkan Prabowo-Sandi hanya sebesar 22,98%. Angka tersebut tidak berbeda jauh dengan quick count yang dilakukan oleh Poltracking dan beberapa lembaga survei lain.

Kemenangan Jokowi di Jawa Tengah sekali lagi membuktikan bahwa Jawa Tengah masih menjadi basis/kandang PDI Perjuangan. Meski digempur oleh BPN Prabowo-Sandi, Jawa Tengah tetap konsisten menjadi kantong suara bagi Jokowi sejak tahun 2014.

shares