Pertandingan Persija Jakarta vs PSM Makassar berlangsung aman dan damai. Segala keraguan yang muncul sebelumnya tak terbukti. Laga ini berjalan jauh dari kata rusuh. Ibarat orang berjalan, melewati sebuah jalanan aspal, pasti ada beberapa kerikil-kerikil kecil.

Pertandingan Persija vs PSM Makassar disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun televisi. Sayangnya, tak semua momen bisa terekam oleh tangkapan layar. Untuk itu, kami memberikan beberapa kisah yang tak tertangkap oleh kamera.

Julio Banuelos yang Berdiri 90 Menit

Setiap pelatih memiliki ciri khas kala mengawal pasukannya. Juergen Klopp, pelatih Liverpool begitu bergairah dan ekspresif kala mengawal sebelas pemain yang berada di lapangan dan tujuh pemain di bangku pemain.

Serupa dengan Klopp, Antonio Conte pun tak kalah ekspresif. Pelatih Inter Milan ini selalu menunjukkan kekesalannya ketika sang pemain tak melakukan instruksi tanpa perlu bersembunyi.

Julio Banuelos, pelatih Persija Jakarta tak jauh beda. Pelatih asal Spanyol ini memiliki ciri khas kala mengawal anak asuhnya. Ia berdiri selama 90 menit. Tak sekali pun Julio beranjak dari tempatnya berdiri, di pojok kanan.

Julio sesekali menghampiri rekan-rekannya di bangku cadangan. Ia mengajak Eduardo Perez Moran – tercatat di dalam daftar susunan pemain sebagai Direktur Teknik – dan Antonio Claudio – pelatih fisik – berbicara.

Pengganti Ivan Kolev ini tak segan untuk memperlihatkan kekecewaannya terhadap keputusan sang pengadil. Beberapa kali ia menunjuk ke arah wasit keempat seakan-akan meminta ketegasan dari sang wasit. Ia bahkan beberapa kali keluar dari kotak tempat pelatih bisa bergerak.

Tak jarang pula Julio mengusap tangannya ke arah muka. Ia seakan-akan lelah dan geram dengan permainan anak asuhnya.

Berbagai tingkah Julio Banuelos adalah hal lumrah di dunia sepak bola. Karena sekali lagi, setiap pelatih memiliki cara untuk mengeluarkan ekspresinya.

  1. Arfan Menangis di Bangku Pemain

Pada awal babak kedua, pemain muda PSM Makassar, Muhammad Arfan terkapar di atas lapangan. Di depan kotak penalti Persija Jakarta, M. Arfan tak bisa berdiri dan harus dibopong oleh tim medis.

Arfan dibawa ke pinggir lapangan. Sempat mendapatkan perawatan dari tim medis, Arfan merintih kesakitan. Tim medis mengirimkan sinyal ke arah pelatih PSM, memberikan kabar bahwa Arfan tak bisa melanjutkan pertandingan.

Pada menit ke-53, Arfan ditarik keluar dan digantikan Rasyid Bakri. Pergantian yang sekaligus mengakhiri permainan aktraktif pemain berusia 22 tahun tersebut.

Arfan tak duduk di bangku pemain. Ia memilih duduk di sebelah bangku pemain. Sesekali ia mengusap rambutnya sendiri seolah memberikan sinyal bahwa ia kesakitan. Tak jarang pula ia memegangi kakinya yag membuat ia harus digantikan.

Masa-masa sulit bagi pesepak bola adalah kala mereka mendapatkan cedera. Cedera ibarat momok menakutkan yang wajib dijauhi. Perasaan takut inilah yang sedang menghinggapi Arfan.

Taufik Hidayat menjadi pemain pertama yang mendatangi Arfan. Ia mengusap rambut Arfan seolah berkata, “It’s okay, mate. Tenang, kamu akan sembuh.”

Setelahnya ada Hasyim Kipuw, bek PSM Makassar yang sempat diisukan hijrah ke Persija Jakarta yang mendatangi Arfan. Ia seolah-olah menguatkan Arfan, gelandang potensial milik PSM Makassar dan Indonesia.

Wajah SUGBK yang Berubah Cepat

Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), tempat pertandingan Persija vs PSM Makassar digelar adalah tempat yang menyenangkan untuk berolahraga. Tak sedikit kawula muda yang memanfaatkan lingkar SUGBK untuk berlari-lari kecil. Beberapa dari mereka juga banyak yang gowes dengan sepeda mahal miliknya.

Biasanya mereka melakukan aktivitas itu setelah mereka bekerja atau pada malam hari. Nah, pada Rabu, 28 Agustus 2019 kemarin, SUGBK sedang padat. Ramai.

Sore hari, ada pertandingan Persija vs PSM Makassar. Malam harinya, SUGBK berubah menjadi tempat berolahraga. Yang menarik perhatian adalah peralihan dari massa suporter ke massa yang ingi berolahraga.

Para suporter Persija dan PSM Makassar seakan kompak untuk segera meninggalkan kompleks SUGBK. Tak semuanya pergi memang, karena beberapa dari mereka memilih untuk bertahan, namun wajah SUGBK tetaplah berubah.

Pada sore hari, SUGBK ibarat menjadi medan perang pertempuran dua klub tradisional Indonesia dan pada malam hari, SUGBK berubah menjadi tempat yang mengasyikkan untuk berolahraga. Sekali lagi, good job untuk kedua suporter!

shares